SEBATU – Komitmen Pemerintah Desa Sebatu dalam merawat kesejahteraan warga lanjut usia tidak hanya berfokus pada kesehatan fisik semata, melainkan juga menyentuh aspek ketenangan batin dan mental. Pada Senin, 21 September 2026, Sekolah Lansia “Sila Werdha Paripurna” Desa Sebatu sukses menggelar pertemuan ke-7 yang mengangkat tema penguatan spiritualitas, terapi ibadah, terapi syukur, hingga teknik self-healing.
Kegiatan yang berlangsung hangat ini dibuka secara resmi oleh Ketua Panitia Sekolah Lansia, Ni Wayan Hilda Yani, S.KM. Acara turut dihadiri langsung oleh Sekretaris Desa Sebatu, I Gede Bawa Sujana, S.Sos., M.I.Kom, jajaran panitia, serta seluruh peserta lansia yang hadir penuh antusias.


Semarak “Tepuk Lansia Sehat” dan Pemahaman Masa Lansia
Suasana kelas dibuka dengan penuh keceriaan melalui peragaan “Tepuk Lansia Sehat” yang dipandu oleh narasumber Ni Komang Ayu Puspawati, S.S., M.I.Kom. Gelak tawa dan tepuk tangan kompak para peserta memecah keheningan saat menyerukan yel-yel kebahagiaan: “Aku Lansia Sehat, Aktif, Produktif, Bahagia Selamanya!”.
Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa memasuki masa lansia membawa berbagai perubahan alami, mulai dari kondisi fisik, emosi, hubungan sosial, hingga dimensi spiritual. Memahami perubahan tersebut merupakan langkah awal bagi lansia untuk tetap memiliki kedamaian pikiran dan kesejahteraan batin.


Ketenangan Hati Lewat Terapi Ibadah dan Terapi Syukur
Sesi edukasi dilanjutkan dengan pembahasan Terapi Ibadah dan Terapi Syukur sebagai sarana menghadapi tekanan hidup dan perubahan usia. Terapi ibadah diwujudkan melalui kegiatan berdoa, membaca kitab suci, ibadah bersama, serta membiasakan diri berbuat baik. Aktivitas spiritual ini terbukti membantu lansia memperoleh ketenangan batin, mengurangi kecemasan, meningkatkan kualitas tidur, serta menjaga semangat hidup.
Selain itu, para penglingsir diajak melatih Terapi Syukur—sebuah latihan sederhana untuk menyadari, menghargai, dan mengucapkan terima kasih atas hal-hal positif yang masih dimiliki. Narasumber mendorong peserta membiasakan diri menuliskan tiga hal yang disyukuri setiap hari, mengucapkan terima kasih kepada keluarga dan teman, serta saling berbagi.
“Lansia tetap memiliki peran yang sangat berharga dalam keluarga dan masyarakat, seperti membimbing cucu, membagikan pengalaman hidup, mengikuti kegiatan sosial, dan menjaga hubungan silaturahmi,” papar Ni Komang Ayu Puspawati.


Teknik Self-Healing dan Kuis Interaktif
Untuk melengkapi kesehatan lahir dan batin, para peserta juga dibekali teknik Self-Healing atau pemulihan mandiri. Beberapa teknik praktis yang diajarkan antara lain latihan napas dalam, jalan santai, berkebun, mendengarkan musik, serta relaksasi.
Suasana semakin semarak saat narasumber menyisipkan sesi kuis tebak-tebakan interaktif untuk melatih fokus dan daya ingat peserta. Diskusi kelompok dan saling memberikan dukungan moral antarpeserta menjadi penutup sesi yang menguatkan kebersamaan.
Acara diakhiri dengan pesan kunci yang mendalam bagi seluruh peserta: “Menjadi lansia bukan berarti berhenti menjalani kehidupan. Masa lansia adalah kesempatan untuk lebih menghargai kehidupan, mempererat hubungan dengan keluarga dan sesama, serta semakin mendekatkan diri kepada Tuhan”