Website Resmi Desa Sebatu
Menggali Sejarah Desa Sebatu sungguh sangat sulit. Penyebab utamanya adalah tidak adanya sumber yang bernilai sesuai dengan kebutuhan. Tetapi karena keadaan mengkehendaki, maka dengan menggunakan ceritra warisan turun temurun dan sedikit berkaitan dengan masalahnya, dicoba untuk menyusun dalam bentuk yang sangat sederhana dan jauh dari nilai sejarah.
Berdasarkan tradisi yang bernama “BHUWANA TATWA MAHA RSIMARKANDYA” yang menceritakan kedatangan Hyang Maha Rsi Markandya ke Bali Dwipa, disebutkan bahwa Maha Rsi Markandya pada abad ke VIII datang ke Bali dan mendirikan pura Tohlangkir. Selanjutnya beliau menuju ke barat dan mendirikan Desa Sarweda yang sekarang dikenal dengan nama Desa Taro serta mendirikan Pura Gunung Raung.
Mengingat kekayaan, bahwa Desa Sebatu berada di sebelah timur, berbatasan dengan Desa Taro, maka mungkin dalam perjalanan Maha Rsi dari Gunung Agung (Tohlangkir) menuju Desa Taro, Desa Sebatu dilalui mungkin juga karena bertambah banyaknya pengikut beliau, sehingga sebagian telah menghuni di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Desa Sebatu disamping itu berdasarkan bukti-bukti keagamaan di wilayah Desa Sebatu banyak yang diketemukan bukti-bukti kegunaan, seperti Lingga dibeberapa Pura dan juga Upacara yang tidak dipuput oleh Pedanda. Tidak adanya Padmasana pada Pura di lingkungan wilayah Desa sebatu juga merupakan suatu ciri kegunaan. Kalau sekarang pada Pura-pura ditemukan Padmasana, adalah pembangunan atau pendirian baru-baru saja. Dari keterangan ini yang disimpulkan, bahwa Desa Sebatu termasuk Desa tua yang cepat menerima pembaharuan.
Dalam tradisi yang lain berupa ceritra warisan leluhur, disebutkan bahwa ketika terjadinya bencana alam letusan Gunung Agung banyak penduduk yang mengungsi dan diantaranya ada yang tinggal menetap, di wilayah Desa Sebatu sekarang. Misalnya Talepud yang sekarang menjadi Dusun/Banjar Pujung Kaja semuanya adalah pendatang dari Daerah Karangasem dan Bangli yang pada mulanya berjumlah 12 orang.
Mengenai nama Sebatu sendiri dikaitkan dengan ceritra yang termuat dalam Lontar Usana Bali yaitu ceritra Mayadanawa. Ketika terjadi peperangan antara Mayadanawa dengan Bhatara Indra, dimana Mayadanawa mengalami kekalahan ia lalu melarikan diri ke arah utara. Dalam pelarian itu Ia masih juga berupaya untuk menghindar dari pengejaran pihak musuh dengan merubah dirinya dengan ilmu gaib. Berulangkali ia merubah dirinya, namun selalu ketahuan juga oleh musuhnya dan dikejar terus. Ketika tiba di suatu tempat mungkin karena kepayahan, sementara musuh tetap mengejar dan terpelesetlah kakinya pada batu. Dalam Bahasa Bali kata terpeleset berarti nyauh berasal dari sauh. Karena terpeleset pada batu (Bahasa Bali nyauh dibatune), kemudian tempat ini disebut Sauh Batu.
Dalam masa perkembangannya kata “Sauh Batu” mengalami peluluhan sehingga menjadi “SEBATU”. Mungkin saja Sebatu dimaksudkan pada waktu itu hanyalah meliputi Banjar Sebatu sekarang dan bukan perbekelan/Desa Sebatu.
Dalam Purana Batur namanya Sebatu juga disebutkan disamping Tepud atau Talepud yang sekarang menjadi Dusun/Br. Pujung Kaja. Penyebaran ini yakni Sebatu dan Talepud secara bersamaan didalam Purana batur dapat dipahami, karena penyebutan itu berdasarkan Desa Adat. Kenyataannya Sebatu dan Talepud (Pujung Kaja) adalah dua Desa Adat yang masing-masing berdiri sendiri.
Adapun termasuknya 9 (sembilan) banjar menjadi satu Perbekelan yaitu Keperbekelan/Desa Sebatu ialah setelah berdirinya/berkuasanya raja-raja dari Puri Gianyar. Hal ini didasarkan atas sumber tradisional yang menyebutkan bahwa Pujung (yang sekarang adalah Pujung Kelod), telah ada bersamaan dengan Talepud, demikian juga Tegalsuci, Bonjaka dan tumbakasa adealah perkembangan dari Talepud. Sedangkan Jati pada mulanya adalah pondokan.
© 2025 - 2026 Website Desa Sebatu.